admin on May 26, 2015

Nphoto_2015-05-27_00-50-16ama Tembok Berlin mungkin langsung melayangkan khayalan kita ke Jerman. Tembok Berlin ternyata tak cuma ada di Jerman, tapi juga di Sorong, Papua Barat. Inilah tempat makan sea food paling eksis di Sorong.

Tembok Berlin, nama ini begitu terkenal di Sorong, Papua Barat. Jangan kira tembok ini seperti tembok besar yang dulu memisahkan Jerman Barat dengan Jerman Timur.

Tembok Berlin di Sorong adalah tembok pembatas antara pantai dengan jalan raya tepi pantai. Tembok ini memanjang, karenanya itu diistilahkan Tembok Berlin. detikTravel mendatangi tempat ini beberapa waktu lalu.

Di sore hari, kawasan Tembok Berlin Sorong sering dijadikan lokasi berkumpul turis dan penduduk Sorong melihat sunset. Jika malam hari, tempat ini beralih menjadi tempat makan.

Warung makan berjejer di tempat ini. Hampir seluruhnya menjual seafood atau makan laut. Khusus ikan, pembeli bisa memilih sendiri ikan yang ingin dinikmati.

Berbagai jenis ikan dengan beragam ukuran dipajang di depan warung. Tepat sebelah ikan, ada alat pemanggang lengkap dengan orang yang siap membakar ikan yang dipilih.

Usai memilih, turis bisa masuk ke dalam warung untuk memesan seafood lain dan minuman. Sekitar 15 menit menunggu, semua makanan terhidang lengkap. Saatnya makan!

sumber : http://travel.detik.com

 

         20150213134525_full   Kepemimpinan merupakan salah satu faktor penentu berhasil atau tidaknya suatu organisasi.   Oleh karena itu seorang pemimpin militer manakala menghendaki untuk menjadi pemimpin yang berhasil maka harus berusaha untuk mencapai kemahiran profesinya. Disamping harus memiliki bekal pengetahuan yang luas hendaknya juga memiliki keyakinan secara tehnis dan taktis terhadap masalah yang berhubungan dengan penyelesaian tugas dan tanggung jawab yang diemban.    Salah satu amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman semasa hidupnya yaitu : ”Dalam menghadapi keadaan apapun jangan lengah, sebab kelengahan menimbulkan kelemahan dan kelemahan menimbulkan kekalahan, sedang kekalahan menimbulkan penderitaan“.     Dalam amanat tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwa pemimpin harus berupaya terfokus pada keyakinan untuk menempatkan keberhasilan dengan mengeliminir sekecil mungkin kegagalan dalam setiap pelaksanaan tugas.

            Banyak dari pemimpin sekarang ini baik dilingkungan sipil maupun militer, menempatkan diri secara personal, bahwa mereka mampu dalam memimpin unit kerja maupun lembaga dimana mereka berada. Namun masih banyak keluhan maupun ketidak puasan dari para anggota/pegawainya yang merasa bahwa pemimpin mereka masih belum menunjukan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi bahkan cenderung pemimpin mereka dengan menunjukan perilaku yang tidak sewajarnya bahkan menjurus kepada hal-hal yang tidak patut dilakukan seorang pemimpin.   Kasus-kasus kepemimpinan yang sedang berkembang saat inilah adalah pemimpin yang mudah terjerumus pada persoalan korupsi, ketidak mampuan mengambil keputusan, pemimpin yang lamban dalam menjalankan amanat rakyat dan lain sebagainya.

         Disisi lain dengan perubahan atmosfir kehidupan bangsa Indonesia sejak awal reformasi menuntut perubahan kehidupan berbangsa dan bertanah air yang cukup signifikan. Saat reformasi bangsa Indonesia dimunculkan kepermukaan, ditandai dengan berakhirnya era Orde Baru. Muncul gagasan agar sipil/masyarakat mempunyai kekuatan dan kekuasaan penuh mengontrol Negara atau yang dikenal dengan Civil Soceity. Menurut Menurut Nurcholish Madjid (2001) civil society adalah adalah suatu masyarakat yang mandiri, yang bisa mengatur dirinya sendiri, dan aktif melakukan kontrol sosial terhadap pelaksanaan pemerintahan. Ciri/azas utamanya adalah kebebasan dan supremasi hukum. Kebebasan tersebut mencakup kebebasan menyatakan pendapat, berkumpul dan berserikat, hak memberi suara, partisipasi dalam pembuatan keputusan politik dan hak untuk mengkritik pemerintah. Namun konsep civil society tidak mampu atau belum dapat berjalan sesuai dengan semangat reformasi yang dibangun dan cenderung terlalu bebas dan tidak adanya aturan yang jelas ditingkat pekaksanaan, masyarakat Indonesia cenderung terkotak-kotak, mementingkan kepantingan pribadi maupun kelompok. Sampai saat ini telah dipilih Empat Presiden Indonesia sejak era reformasi dalam mengemban amanat rakyat untuk memimpin bangsa Indonesia, namun kesemuanya belum mampu menunjukan kepemimpinan nasional yang kuat, yang dapat membawa bangsa Indonesia keluar dari kemelut kehidupan bangsa yang ada sekarang, dimana tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia belum meningkat sesuai dengan amanat UUD 1945.

           TNI yang lahir dari rakyat, berjuang bersama rakyat, telah banyak mewarnai kehidupan bangsa dan Negara ini. Bagi TNI tidak ada kata lain untuk berjuang bersama sama dengan seluruh komponen bangsa untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan TNI ditengah-tengah kehidupan bangsa ini tidak lepas dari perjuangan dan perjalanan panjang bangsa Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Letjen Oerip Sumohardjo “Aneh, suatu negara Zonder tentara”. Apabila kita dapat memaknainya bahwa setiap negara pasti mempunyai tentara sebagai kekuatan bersenjata yang bertugas untuk mempertahankan eksistensi negaranya. Kekuatan TNI bukan untuk mengontrol kekuasaan negara, tetapi kekuatan TNI adalah untuk menjaga keamanan negara. Kekecewaan masyarakat semasa Orde Baru menempatkan TNI sebagai kekuatan yang berada penuh pada kontrol penguasa , dimana keberadaan TNI digunakan untuk kepentingan penguasa. Stabilitas menjadi kata kunci dalam mengontrol kekuatan masyarakat, keterbelengguan ini harus dibayar mahal, dimana diawal reformasi TNI menjadi bahan cercaan setiap hari dimedia masa baik cetak maupun elektronik. TNI dibuat menjadi lemah, embargo terhadap Alutsista TNI, masih dirasakan sampai sekarang oleh TNI. Pelemahan kemampuan juga dirasakan oleh para prajurit TNI baik ditingkat Tamtama sampai dengan Perwira Tinggi, banyak prajurit dibawa kemeja hijau karena kasus/pelanggaran HAM. Tugas yang diemban dilapangan yang penuh resiko harus dibayar dengan jeruji penjara/sel. Kesedihan yang mendalam bagi prajurit TNI dimaknai sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada ibu pertiwi yang sangat dicintai. Terpaan dan kejadian bagi TNI adalah perjalanan sejarah yang harus diemban dan tetap akan dirasakan oleh generasi penerus TNI.

admin on May 26, 2015
OSI 7 Layer
1.   Pengertian OSI7 Layer
Model Open Systems Interconnection (OSI) diciptakan oleh InternationalOrganization for Standardization (ISO) yang menyediakan kerangka logika terstruktur  bagaimana proses komunikasi data berinteraksi melalui jaringan. Standard inidikembangkan untuk industri komputer agar komputer dapat berkomunikasi pada jaringanyang berbeda secara efisien.Model Layer OSI dibagi dalam dua group: “upper layer” dan “lower layer”. “Upper layer” fokus pada applikasi pengguna dan bagaimana file direpresentasikan di komputer.Untuk Network Engineer, bagian utama yang menjadi perhatiannya adalah pada “lower layer”. Lower layer adalah intisari komunikasi data melalui jaringan aktual.Tujuan utama penggunaan model OSI adalah untuk membantu desainer jaringanmemahami fungsi dari tiap-tiap layer yang berhubungan dengan aliran komunikasi data.Termasuk jenis-jenis protoklol jaringan dan metode transmisi. Model dibagi menjadi 7layer, dengan karakteristik dan fungsinya masing-masing. Tiap layer harus dapat berkomunikasi dengan layer di atasnya maupun dibawahnya secara langsung melalui serentetan protokol dan standard
Cara Kerja OSI Layer
Ketika data ditransfer melalui jaringan, sebelumnya data tersebut harus melewatike-tujuh layer dari satu terminal, mulai dari layer aplikasi sampai physical layer, kemudiandi sisi penerima, data tersebut melewati layer physical sampai aplikasi. Pada saat datamelewati satu layer dari sisi pengirim, maka akan ditambahkan satu “header” sedangkan pada sisi penerima “header” dicopot sesuai dengan layernya. Dari masing-masing layer mempunyai tugas tersendiri demi kelancaran data yang akan dikirimkan.
2.   Sejarah singkat model Osi7 Layer
Dahulu pada era 70-an, banyak perusahaan software yang membuat System Network Architektur (SNA), yang antara lain IBM, Digital, Sperry, burough dsb.
Tentunya masing-masing perusahaan tersebut membuat aturan-aturan, sendiri yang satu sama lain tidak sama, misalkan IBM mengembangkan SNA yang hanya memenuhi kebutuhan komputer-komputer menggunakan SNA produk IBM ingin dihubungkan dengan SNA produk digital tentunya tidak bisa, hal ini disebabkan protokolnya tidak sama . Analoginya, misalkan anda berbicara dengan bahasa Jawa, tentunya akan dimengerti pula orang lain yang juga bisa berbahasa Jawa, misalkan anda berbicara dengan orang sunda, apakah bahasa anda dapat diterima oleh orang tersebut?? tentunya tidak? masalah ini bisa diselesaikan jika anda berbicara menggunakan bahasa standar yang tentunya bisa dimengerti lawan bicara anda.
Menghadapi kenyataan oini, kemudian The International Standard Organization (ISO) pada sekitar tahun 1980-an, meluncurkan sebuah standar model referensi  yang berisi cara kerja serangkaian protokol SNA. model referensi ini selanjutnya dinamakan Open System Interconnection (OSI).
Model Referensi OSI terdiri dari 7 buah bagian / layer yang masing-masing layer mempunyai tugas sendiri-sendiri. dikarenakan OSI terdiri dari 7 macam layer, maka model referensi OSI seringkali disebut OSI 7 Layer.
Tujuan OSI7 Layer
Tujuan utama penggunaan model OSI adalah untuk membantu desainer jaringan  memahami.
Fungsi dari tiap‐tiap layer yang berhubungan dengan aliran komunikasi data. Termasuk jenisjenis protoklol jaringan dan metode transmisi.
Model dibagi menjadi 7 layer, dengan karakteristik dan fungsinya masing‐masing. Tiap layer harus dapat berkomunikasi dengan layer di atasnya maupun dibawahnya secara langsung melalui serentetan protokol dan standard
3.      Pembagian OSI7 Layer
a.               Physical Layer.
Ini adalah layer yang paling sederhana yang berkaitan dengan electrical (dan optical)koneksi antar peralatan. Data biner dikodekan dalam bentuk yang dapat ditransmisimelalui media jaringan, sebagai contoh kabel, transceiver dan konektor yang berkaitandengan layer Physical. Peralatan seperti repeater, hub dan network card adalah berada pada layer ini. Fungsi physical layer antara lain : Untuk mendefinisikan media transmisi jaringan, metode pensinyalan, sinkronisasi bit,arsitektur jaringan (seperti halnya Ethernet atau Token Ring), topologi jaringan dan pengabelan. Selain itu, level ini juga mendefinisikan bagaimana Network InterfaceCard (NIC) dapat berinteraksi dengan media kabel atau radio.  Cotoh dari physical layer : Hub
      Network components:
o   Repeater
o   Multiplexer
o   Hubs(Passive and Active)
o   TDR
o   Oscilloscope
o   Amplifier
Protocols:
o   IEEE 802 (Ethernet standard)
o   IEEE 802.2 (Ethernet standard)
o   ISO 2110
o   ISDN
a.       Data-link layer
Layer ini sedikit lebih “cerdas” dibandingkan dengan layer physical, karenamenyediakan transfer data yang lebih nyata. Sebagai penghubung antara medianetwork dan layer protocol yang lebih high-level, layer data link bertanggung-jawab pada paket akhir dari data binari yang berasal dari level yang lebih tinggi ke paketdiskrit sebelum ke layer physical. Akan mengirimkan frame (blok dari data) melaluisuatu network. Ethernet (802.2 & 802.3), Tokenbus (802.4) dan Tokenring (802.5)adalah protocol pada layer Data-link. Fungsi data-link layer antara lain: Untuk menentukan bagaimana bit-bit data dikelompokkan menjadi format yang disebutsebagai frame. Selain itu, pada level ini terjadi koreksi kesalahan, flow control, pengalamatan perangkat keras (seperti halnya Media Access Control Address (MACAddress), dan menetukan bagaimana perangkat-perangkat jaringan seperti hub, bridge,repeater, dan switch layer 2 beroperasi. Spesifikasi IEEE 802, membagi level inimenjadi dua level anak, yaitu lapisan Logical Link Control (LLC) dan lapisan MediaAccess Control (MAC).
Contoh dari link layer : NIC / LAN Card

      Network components:
o   Bridge
o   Switch
o   ISDN Router
o   Intelligent Hub
o   NIC
o   Advanced Cable Tester
      Protocols:
      Media Access Control: Communicates with the adapter card and  Controls the type of
      media being used:
o   802.3 CSMA/CD (Ethernet)
o   802.4 Token Bus (ARCnet)
o   802.5 Token Ring
o   802.12 Demand Priority
Logical Link Control
o   error correction and flow control
o   manages link control and defines SAPs
a.       Network Layer
Tugas utama dari layer network adalah menyediakan fungsi routing sehingga paketdapat dikirim keluar dari segment network lokal ke suatu tujuan yang berada padasuatu network lain. IP, Internet Protocol, umumnya digunakan untuk tugas ini. Protocollainnya seperti IPX, Internet Packet eXchange. Perusahaan Novell telah memprogram protokol menjadi beberapa, seperti SPX (Sequence Packet Exchange) & NCP (NetwareCore Protocol). Protokol ini telah dimasukkan ke sistem operasi Netware. Fungsi network layer antara lain: Untuk mendefinisikan alamat-alamat IP, membuat header untuk paket-paket, dankemudian melakukan routing melalui internetworking dengan menggunakan router danswitch layer-3. Contoh dari Network Layer : B-router
Network component
o   Bridge
o   Switch
o   ISDN Router
o   Intelligent Hub
o   NIC
o   Advanced Cable Tester
Protocols
o   IP; ARP; RARP, ICMP; RIP; OSFP;
o   IGMP;
o   IPX
o   NWLink
o   NetBEUI
o   OSI
o   DDP
o   DECnet
a.       Transport Layer
Layer transport data, menggunakan protocol seperti UDP, TCP dan/atau SPX(Sequence Packet eXchange, yang satu ini digunakan oleh NetWare, tetapi khususuntuk koneksi berorientasi IPX). Layer transport adalah pusat dari mode-OSI. Layer inimenyediakan transfer yang reliable dan transparan antara kedua titik akhir, layer ini juga menyediakan multiplexing, kendali aliran dan pemeriksaan error sertamemperbaikinya. Fungsi transport layer antara lain: Untuk memecah data ke dalam paket-paket data serta memberikan nomor urut ke paket-paket tersebut sehingga dapat disusun kembali pada sisi tujuan setelah diterima.Selain itu, pada level ini juga membuat sebuah tanda bahwa paket diterima dengansukses (acknowledgement), dan mentransmisikan ulang terhadp paket-paket yanghilang di tengah jalan.  Contoh dari transport layer : B-router
Network components:
o   Gateway
o   Advanced Cable Tester
o   Brouter
Protocols:
o   TCP, ARP, RARP;
o   SPX
o   NWLink
o   NetBIOS / NetBEUI
o   ATP
a.       Session Layer
Layer Session, sesuai dengan namanya, sering disalah artikan sebagai prosedur logon pada network dan berkaitan dengan keamanan. Layer ini menyediakan layanan ke dualayer diatasnya, Melakukan koordinasi komunikasi antara entiti layer yangdiwakilinya. Beberapa protocol pada layer ini: NETBIOS: suatu session interface dan protocol, dikembangkan oleh IBM, yang menyediakan layanan ke layer presentationdan layer application. NETBEUI, (NETBIOS Extended User Interface), suatu pengembangan dari NETBIOS yang digunakan pada produk Microsoft networking,seperti Windows NT dan LAN Manager. ADSP (AppleTalk Data Stream Protocol).PAP (Printer Access Protocol), yang terdapat pada printer Postscript untuk akses pada jaringan AppleTalk. Fungsi session layer antara lain: Untuk mendefinisikan bagaimana koneksi dapat dibuat, dipelihara, atau dihancurkan.Selain itu, di level ini juga dilakukan resolusi nama. Dan juga mengendalikan dialogantar aplikasi. Contoh dari Session layer: Gateway.
Network components:
o   Gateway
Protocols:
o   NetBIOS
o   Names Pipes
o   Mail Slots
o   RPC
b.      Presentation Layer
Layer presentation dari model OSI melakukan hanya suatu fungsi tunggal: translasidari berbagai tipe pada syntax sistem. Sebagai contoh, suatu koneksi antara PC danmainframe membutuhkan konversi dari EBCDIC character-encoding format ke ASCIIdan banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Kompresi data (dan enkripsi yangmungkin) ditangani oleh layer ini. Fungsi presentation layer antara lain: Untuk mentranslasikan data yang hendak ditransmisikan oleh aplikasi ke dalam formatyang dapat ditransmisikan melalui jaringan. Protokol yang berada dalam level iniadalah perangkat lunak redirektor (redirector software), seperti layanan Workstation(dalam Windows NT) dan juga Network shell (semacam Virtual Network Computing(VNC) atau Remote Desktop Protocol (RDP)). Contoh dari Pressentation layer: Gateway
Network components:
o   Gateway
o   Redirector
Protocols:
o   None
c.       Aplication Layer
Layer ini adalah yang paling “cerdas”, gateway berada pada layer ini. Gatewaymelakukan pekerjaan yang sama seperti sebuah router, tetapi ada perbedaan diantaramereka. Layer Application adalah penghubung utama antara aplikasi yang berjalan pada satu komputer dan resources network yang membutuhkan akses padanya. Layer Application adalah layer dimana user akan beroperasi padanya, protocol seperti FTP,telnet, SMTP, HTTP, POP3 berada pada layer Application. Fungsi application layer antara lain: Sebagai antarmuka dengan aplikasi dengan fungsionalitas jaringan, mengatur  bagaimana aplikasi dapat mengakses jaringan, dan kemudian membuat pesan-pesankesalahan. Protokol yang berada dalam lapisan ini adalah HTTP, FTP, SMTP, dan NFS.
Contoh dari Application layer: Gateway
      Network components:
o   Gateway
      Protocols:
o   DNS; FTP
o   TFTP; BOOTP
o   SNMP; RLOGIN
o   SMTP; MIME;
o   NFS; FINGER
o   TELNET; NCP
o   APPC; AFP
o   SMB
admin on August 7, 2013
Secara besar, ada dua macam berpikir: berpikirautistik atau berpikir realistik (Rahmat, 1994: 69). Yang pertama mungkin lebih tepat disebut melamun. Contoh berpikir autistik antara lain mengkhayal, fantasi, atau wishful thingking. Dengan berpikir autistik, seseorang melarikan diri dari kenyataan, dan melihat hidup sebagai gambar – gambar fantastik. Adapun berpikir realistik atau sering pula disebutreasoning (nalar), adalah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd L. Ruch (1967), seperti dikutip Rakhmat (1994 : 69), menyebut tiga macam berpikir realistik: dedukatif, induktif, evaluatif.
Apa yang dimaksud berpikir deduktif, berpikir induktif, dan berpikir evaluatif? Uraian berikut bisa memberi sedikit penjelasan.
Berpikir Deduktif
Deduktif merupakan sifat deduksi. Kata dedukdi berasal dari kata Latin deducere (de berarti “dari”, dan kata ducere berarti “mengantar”, memimpin”). Dengan demikian, kata deduksi yang diturunkan dari kata itu berarti “mengantar dari suatu hal ke hal lain”. Sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduksi merupakan proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari proposisi yang sudah ada, menuju proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan (Keraf, 1994:57).
Reasoning yang deduktif berasal atau bersumber dari pandangan umum (general conclusion) waktu itu, bahwa matahari adalah suatu “heavenly body” yang tidak mungkin ada cirinya.
Meskipun cara ini kurang sempurna, tetap bermanfaat kalau deduksi ini didasarkan pada suatu perumusan yang betul. Dasar dari pelajaran ilmu pasti dan alam adalah demikian pula halnya. Dari suatu rumus umum, dapat ditarik berbagai kesimpulan. Mereka berpikir ini dapat juga disebut berpikir analisis (analisis thingking).
Dilihat dari prosesnya, berpikir deduktif berlangsung dari yang umum menuju yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori, prinsip, atau kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum. Dari situ, ia menerapkannya pada fenomena – fenomena yang khusus, dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut. Jadi, untuk lebih jelasnya, berpikir deduktif adalah mengambil kesimpulan dari dua pertanyaan: yang pertama merupakan pertanyaaan umum. Dalam logika, ini disebut silogisme.

Contoh klasik yang biasa digunakan sebagai pejelasan adalah seperti contoh berikut:
Semua manusia akan mati (Kesimpulan umum)
Socrates adalah manusia (Kesimpulan khusus)
Jadi, Socrates akan mati (Kesimpulan deduksi)
Selain contoh di atas, ada pula semacam kesimpulan deduksi yang tidak bisa kita terima kebenarannya, yang disebut silogisme semu. Contohnya:
Semua manusia bernafas dengan paru – paru (Premis Mayor)
Kerbau bernafas dengan paru – paru (Premis Minor)
Jadi, kerbau adalah manusia (Kesimpulan yang Salah)
Contoh lain:
Semua anggota PKI bukan warga negara yang baik (premis Mayor)
Si Waru bukan seorang warga negara yang baik (Premis Minor)
Sebab itu, Si Waru seorang anggota PKI.
Berpikir Induktif
Induktif artinya bersifat induksi. Induksi adalah proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Proses penalaran ini mulai bergerak dari penelitian dan evaluasi atas fenomena – fenomena yang ada. Karena semua fenomena harus diteliti dan dievaluasi terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh ke proses penalaran induktif, proses penalaran itu juga disebut sebagai corak berpikir ilmiah. Namun, induksi tidak akan banyak manfaatnya jika tidak diikuti oleh proses berpikir yang pertama, yaitu deduksi, seperti telah kita bicarakan sebelumnya.
Berpikir induktif (induktive thingking) ialaha menarik suatu kesimpulanumum dari berbagai kejadian (data) yang ada di sekitarnya. Dasarnya adalah observasi. Proses berpikirnya adalah sintesis. Tingkatan berpikirnya adalah induktif. Jadi, jelas pemikiran semacam ini mendekatkan manusia pada ilmu pengetahuan.
Pada hakikatnya, semua pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari proses pengamatan (Observasi) terdapat data. Rangkuman pengamatan data tersebut kemudian memberikan pengertian terhadap kejadian berdasarkan reasoning yang bersifat sintetis (synthesis).
Dalam ilmu pasti dan alam, metode sintesis merupakan kelanjutan dari metode analisis. Sumber dari tingkatan berpikir ini berpikir ini berasal dari the philosophy of thingking”para ilmuwan pada waktu itu, seperti Galileo, Newton, dan Descartes.
Dalam ilmu statistik, dikenal istilah inductive statistics. Menaruk satu general conclusion dari data yang didapatkan dari suatu sampel, yang berlaku untuk seluruh populasi tempat sampel itu berasal, adalah contoh berpikir induktif. Istilah lain yang sama maknanya ialah generalizing atau integral(Effendy, 1981). Istilah lain yang sama maknanya ialah generalizing atau integral (Effendy, 1981).
Berikut ini adalah contoh berpikir induktif:
Seorang guru mengadakan eksperimen – eksperimen menanam biji – bijian bersama murid – muridnya, jagung ditanam, tumbuh ke atas; kacang tanah ditanam, di sebelah bawah, tumbuhnya ke atas pula; biji – biji yang lain demikian pula. Kesimpulannya: semua batang tanaman, tumbuhannya ke atas mencari sinar matahari.
Tepat atau  tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama bergantung pada representatif atau tidaknya sampel yang diambil, yang mewakili fenomena keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang diambil makin representatif dan makin besar pula taraf validitasnya dari kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh objektivitas dari si pengamat dan homogenitas dari fenomena – fenomena yang diselidiki (Purwanto, 1998:47 – 48).
Berpikir Evaluatif
Berpikir evaluatif ialah kritis, menilai baik  – buruknya, tepatnya atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berpikir evaluatis, kita tidak menambah atau mengurangi gagasan. Kita menilainya menurut kriteria tertentu (Rakhmat.1994).
Perlu diingat bahwa jalannya berpikir pada dasarnya ditentukan oleh berbagai macam fokus. Suatu masalah yang sama, mungkin menimbulkan pemecahan yang berbeda – beda pula. Adapun faktor –faktor yang memengaruhi jalannya berpikir itu, antara lain, yaitu bagaimana seseorang melihat atau memahami masalah tersebut, situasi yang tengah dialami seseorang dan situasi luar yang dihadapi, pengalaman – pengalaman orang tersebut, serta bagaimana inteligensi orang itu.
Sumber: Psikologi Umum. Drs. Alex Sobur, M. Si. (Hlm. 214 – 216)

Penelitian yang sistematis diawali dengan suatu persoalan. Jhon Dewey menyebutkan bahwa langkah pertama dalam metode ilmiah adalah pengakuan akan adanya kesulitan, hambatan, atau masalah yang membingungkan peneliti.
Rumusan dari masalah-masalah itu yang kemudian diungkapakan dalam rangkaian deskripsi yang biasa disebut latar belakang. Pemilihan dan perumusan masalah adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan penelitian dalam bidang apa saja. Para peneliti pemula kadangkala terkejut melihat bahwa permulaan ini kerapkali memakan sebagian besar waktu yang mereka pergunakan untuk proyek penelitian mereka. Padahal penelitian tidak dapat dilakukan sebelum suatu masalah dapat diidentifikasi, dipikirkan secara tuntas, dan dirumuskan dengan baik. Namun terkadang pula, peneliti pemula sudah mampu mengidentifikasi, dan merumuskan masalah mereka, tapi hanya dalam nalar dan konsep mereka dan tidak mampu menuangkan dalam rangkaian tulisan.
Pertanyaan yang sering muncul dari seorang peneliti pemula adalah “bagaimana saya dapat menemukan satu persoalan penelitian?”, meskipun tidak ada kaidah yang pasti terhadap rumusan persoalan penelitian, yang jelas, masalah adalah sesuatu yang bukan atau tidak menjadi harapan kita. Namun ada beberapa hal yang terbukti menjadi sumber masalah penelitian, yaitu pengalaman, deduksi dari teori, dan literatur yang ada kaitannya. Dari ketiga hal tersebutlah rumusan masalah dari suatu penelitian dideskripsikan.
Kita tidak melebih-lebihkan pentingnya penjabaran persoalan jelas dan padat. Para peneliti pemula sering sudah mempunyai pengertian umum tentang persoalannya, tapi menemukan kesulitan untuk merumuskannya sebagai suatu persoalan penelitian yang dapat digarap Mereka menemukan kenyataan bahwa pengertian umum mereka yang semula, meskipun cukup memadai untuk komunikasi dan pemahaman masih belum cukup spesifik untuk memungkinkan pemecahan persoalan secara empiris. Mereka tidak dapat melangkah maju sebelum dapat menyatakan suatu persoalan konkret yang dapat diteliti.
Sebagai contoh, seorang peneliti menyatakan bahwa ia berminat menyelidiki keefektifan kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam baru di sekolah menengah. Dengan pernyataan seperti itu, orang dapat mengerti secara umum apa yang ingin dilakukannya, serta dapat menyampaikan hal itu secara umum pula. Akan tetapi, peneliti harus menetapkan persoalan tersebut jauh lebih jelas lagi, kalau ia ingin menemukan cara untuk menyelidikinya.
Suatu langkah yang penting menyangkut batasan-istilah-istilah yang terdapat di dalamnya. Apakah yang dimaksud dengan keefektifan, kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam dan Sekolah Menengah?. Batasan-batasan yang diperlukan untuk penelitian biasanya tidak terdapat di dalam kamus. Misalnya, keefektifan menurut kamus adalah “memberikan hasil yang diinginkan atau yang diharapkan”. Batasan ini melukiskan pengertian umum dari kata keefektifan, tetapi belum cukup tepat untuk maksud-maksud penelitian. Peneliti harus dapat menetapkan dengan tegas indikator keefektifan apa yang akan digunakan, atau apa yang akan ia lakukan untuk mengetahui ada atau tidak adanya gejala yang dimaksud dengan konsep keefektifan itu. Hal ini juga berlaku bagi istilah-istilah lainnya. Dengan kata lain, ia harus memberi batasan terhadap variabel-variabel persoalan itu secara operasional. Untuk merumuskan konsep-konsep secara operasional, ia harus menetapkan suatu tingkah laku atau kejadian lahir yang dapat diamati dan diukur secara langsung, oleh dirinya sendiri dan orang lain.
Untuk menyelesaikan masalah perumusan masalah ini, yang pertama yang harus diketahui bahwa bentuk deskripsi permasalahan atau latar belakang masalah yang tertuang adalah berbentuk piramida terbalik. Seorang peneliti mula-mula harus menentukan pokok persoalan penyelidikan yang bersifat umum, pilihan seperti itu bersifat sangat pribadi dan tergantung dari kemauan dan peguasaan peneliti dalam menguraikan masalahnya, tetapi hendaknya masalah umum tersbut benar-benar dikuasai dan merupakan bidang yang menarik dan berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kalau tidak, akan sulit mengarahkan deskripsi permasalahan yang mengkrucut kepada masalah yang akan diteliti. Pengetahuan, pengalaman dan lingkungan peneliti, biasanya menjadi alternatif pilihan untuk hal ini.
Setelah dipilih pokok persoalan yang bersifat umum tadi, kemudian dipersempit kepada hal yang sifatnya pertengahan, dalam artian seorang peneliti mendeskripsikan sesuatu sebagai penyambung atau penengah antara persoalan umum tadi dengan hal yang sempit. Hal yang bersifat umum tadi dipersempit sampai menjadi persoalan yang mengkhusus dan menjurus dan menetukan pertanyaan yang harus dijawab. Peneliti juga harus menyatakan dengan tepat kemungkinan apa yang akan dilakukan untuk menjawab pertanyaan itu.
Salah satu sumber yang paling berguna bagi para peneliti pemula adalah pengalaman mereka sendiri. Banyak keputusan yang harus diambil setiap hari tentang kemungkinan pengaruh praktek-praktek terhadap tingkah-laku yang akan dijadikan masalah penelitian. Pendekatan ilmiah terhadap praktek menetapkan bahwa keputusan tentang bagaimana melakukan sesuatu di bidang pendidikan hendaknya didasarkan pada bukti-bukti empiris, bukan pada firasat, kesan, perasaan, atau dogma.
Sumber permasalahan lain yang berharga seperti yang telah disebutkan di atas, ialah literatur dalam bidang yang menarik perhatian peneliti. Pada waktu membaca laporan-laporan penelitian yang sudah dilakukan, kita dihadapkan pada contoh-contoh permasalah penelitian serta cara bagaimana penelitian tersebut dilaksanakan. Juga, para penulis sering menutup studi mereka dengan saran-saran tentang penelitian selanjutnya yang diperlukan guna meneruskan pekerjaan yang telah dilaporkan itu. Ada gunanya kita melihat kalau-kalau prosedur yang dipakai dalam penelitian terdahulu itu dapat disesuaikan guna memecahkan persoalan-persoalan lain. Atau, apakah studi yang serupa juga dapat dilakukan di lapangan, bidang persoalan, atau dengan kelompok subyek yang berbeda,
Salah satu ciri penting penelitian ilmiah ialah, bahwa penelitian tersebut harus dapat ditiru atau diulang (replicable), sehingga hasil-hasilnya dapat dibuktikan. Replikasi suatu studi, dengan atau tanpa variasi, mungkin dapat menjadi kegiatan yang berfaedah dan berharga bagi peneliti pemula. Pengulangan suatu studi dapat meningkatkan luasnya jangkauan generalisasi hasil penelitian sebelumnya serta memberikan bukti tambahan tentang validitas hasil tersebut. Dalam banyak eksperimen penelitian, kita tidak dapat memilih subyek secara acak, melainkan harus menggunakan kelompok-kelompok sebagaimana adanya. Sudah barang tentu hal ini akan membatasi jangkauan generalisasi hasil-hasil penelitian tersebut. Akan tetapi, dengan diulanginya eksperimen-eksperimen pada waktu dan tempat yang berlainan, dengan hasil yang menguatkan hubungan-hubungan yang diharapkan itu pada setiap penyelidikan, maka kepercayaan terhadap validitas ilmiah hasil-hasil tersebut pun akan meningkat.
Sesudah masalah dipilih dan signifikan atau pentingnya masalah itu ditetapkan, maka tugas berikutnya ialah merumuskan atau mengemukakan persoalan tersebut dalam bentuk yang dapat diteliti. Penjabaran persoalan yang baik harus menerangkan dengan jelas apa yang akan diterangkan atau dipecahkan, dan membatasi ruang-lingkup suatu persoalan.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Donald Ary, et,. all. Diterjemahkan oleh Arief Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Pustaka Pelajar, 2004. Jhon Dewey, How We Think. Heath, Boston, 1933. EA Nelson, Sources of Variance in Behavioral Measure of Honesty in Temptation Situations; Methodological Analysis. Devlopment Psycologi, 1969.

sumber : http://www.referensimakalah.com

A. Pengertian Teori

Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generelisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian. (Sumadi Suryabrata dalam Sugiyono, 2009:79)

Teori adalah seperangkap konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antara variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. (Neumen dalam Sugiyono, 2009:80)

Sitirahayu 1999 menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan dan meramalkan gejala yang ada.

Mark membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:

  1. Teori yang deduktif: memberikan keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
  2. Teori yang induktif: adalah cara menerangkan dari data ke arah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviorist
  3. Teori yang fungsional: di sini tampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.

Berdasarkan pernyataan di atas secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem pengertian ini diperoleh melalui, jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak, maka dia bukan suatu teori. (Sugiyono, 2009:80-81)

B. Tingkat dan Fokus Teori

Numan mengemukakan tingkat teori menjadi tiga, yaitu Micro, Meso dan Macro. Selanjutnya fokus teori dibedakan menjadi tiga yaitu teori subtatif, teori formal, dan midle range theory.

Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan data adalah teori substantif, karena teori ini lebih fokus berlaku untuk obyek yang akan diteliti. (Sugiyono, 2009:83)

C. Kegunaan Teori dalam Penelitian

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori di sini akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang akan diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai.

Teori-teori pendidikan dapat dibagi menjadi teori umum pendidikan dan teori khusus pendidikanTeori umum pendidikan dapat dibagi menjadi filsafat-filsafat pendidikan (filsafat ilmu pendidikan dan filsafat praktek pendidikan) dan Ausland pedagogik. Teori khusus pendidikan dapat dibagi menjadi teknologi pendidikan (manajemen pendidikan, pengembangan kurikulum, model-model belajar mengajar dan evaluasi pendidikan) dan ilmu pendidikan (ilmu pendidikan makro dan mikro).

Redja Mudyaharjo 2002 dalam (Sugiyono, 2009:88), mengemukakan bahwa, sebuah teori pendidikan adalah sebuah sistem konsep yang terpadu, menerangkan dan prediktif tentang peristiwa-peristiwa pendidikan. Sebuah teori ada yang berperan sebagai asumsi atau titi tolak pemikiran pendidikan, dan ada pula yang berperan sebagai definisi atau keterangan yang menyatakan makna. Asumsi pokok pendidikan adalah:

  1. Pendidikan adalah aktual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar dan lingkungan belajarnya
  2. Pendidikan adalah normatif, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal yang baik atau norma-norma yang baik
  3. pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa serangkaian kegiatan yang bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar, tertuju pada pencapaian individu yang diharapkan.

Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka fungsi teori yang pertama digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti. Fungsi teori yang kedua adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif. Selanjutnya fungsi teori yang ketiga digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dan upaya pemecahan masalah.

D. Deskripsi Teori

Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga variabel independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan dengan variabel independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang dikemukakan.

Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. (Sugiyono, 2009:89)

Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:

  1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya
  2. Cari sumber-sumber bacaan yang banyak dan relevan dengan setiap variabel yang diteliti.
  3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian lihat penelitian permasalahan yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis dan saran yang diberikan.
  4. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, kemudian bandingkan antara satu sumber dengan sumber lainnya dan dipilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
  5. Baca seluruh isi topik buku sesuai dengan variabel yang akan diteliti lakukan analisis renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.

E. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan peda kerangka berpikir

Suriasumantri, 1986 dalam (Sugiyono, 2009:92) mengemukakan bahwa seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan  hipotesis. Kerangka pemikiran merupakan penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan.

Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan ilmuwan, adalah alur-alur pemikiran yang logis dalam membangun suatu berpikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berpikir merupakan sintesa tentang hubungan antara variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antara variabel penelitian. Sintesa tentang hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis

DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL

Setelah variabel-variabel diidentifikasi dan klasifikasikan, maka variabel-variabel tersebut perlu diidentifikasikan secara operasional. Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat yang dapat diamati (diobservasi) dari definisi operasional tersebut dapat ditentukan alat pengambilan data yang cocok dipergunakan.

Adapun cara penyusunan definisi operasional itu bermacam-macam, yaitu:

  1. Menekankan kegiatan (Operation) apa yang perlu dilakukan
  2. Menekankan bagaimana kegiatannya (Operation) itu dilakukan
  3. Menekankan sifat-sifat statis hal yang didefinisikan.

Contohnya sebagai berikut:

  1. Frustrasi adalah keadaan yang timbul sebagai akibat tercegahnya pencapaian hal yang sangat diinginkan yang sudah hampir dicapai.
  2. orang cerdas adalah orang yang tinggi kemampuannya dalam pemecahan masalah, tinggi kemampuannya dalam menggunakan bahasa dan bilangan.
  3. Ekstraversi adalah kecenderungan lebih suka berada dalam kelompok dari pada seorang diri.

Setelah definisi operasional sebagaimana contoh di atas, selanjutnya peneliti menunjuk alat yang dipergunakan untuk mengambil data-datanya. Dan setelah dirumuskan, maka yang terkandung dalam hipotesis telah dioperasionalisasikan, jadi peneliti telah menyusun prediksi tentang kaitan berbagai variabel penelitiannya itu secara operasional dan siap diuji melalui data empiris. (Marzuki, 2005)

  1. kategori konseptual dan kawasannya. Kategori adalah unsur konseptual suatu teori, sedangkan kawasannya adalah aspek atau unsur suatu kategori. Perlu diketahui pula bahwa kategori maupun kawasannya disini tidak lain adalah konsep yang ditunjukkan oleh data yang berbeda dalam tingkat konseptualnya. Bila kategori atau kawasannya telah diperoleh, maka bila terjadi perubahan pada data kategori itu akan tetap, tidak akan berubah atau menjadi lebih jelas.
  2. hipotesis. Unsur teori yang kedua ini dicapai melalui analisis perbandingan. Analisis perbandingan antara kelompok tidak hanya menghasilkan kategori, tetapi mempercepat adanya hubungan yang disimpulkan antara kelompok tersebut dan hal itu dinamakan hipotesis. Perlu ditekankan adalah bahwa status hipotesis ialah sesuatu yang disarankan, bukan sesuatu yang diuji antara hubungan kategori dan kawasannya.

integrasi. Integrasi teori artinya pemanduan unsur-unsur teori sehingga menjadi lebih bermakna dan lebih kompak. Integrasi tersebut dilakukan pada hipotesis yang muncul dari data pada tingkat keumuman yang rendah maupun tinggi.

Sumber : http://spupe07.wordpress.com